SEBUAH RENUNGAN
MENYIBAK MISTERI USIA 60 TAHUN (± 21.500 hari)
Ani Pinayani *)

”Pertarungan maut itu berada diantara usia enam puluh tahun
hingga tujuh puluh tahun” (HR. Bukhori)

”Usia umatku berkisar antara enam puluh hingga tujuh puluh
tahun. Sedikit yang berhasil melewatinya” (Hadits Abu Hurairoh diriwayatkan oleh Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Segala puji hanyalah milik Allah. Kita meminta perlindungan kepada-Nya dari kejahatan diri kita dan keburukan amal perbuatan kita. Barang siapa yang diberi petunjuk oleh Allah, niscaya tidak ada seorangpun yang dapat menyesatkannya. Dan barang siapa yang disesatkan oleh Allah, niscaya tidak ada seorangpun yang dapat meberinya petunjuk. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar melainkan Allah yang tidak ada sekutu bagi-Nya dan aku bersaksi bahwa Muhammad SAW adalah hamba dan utusan-Nya. Semoga Allah senantiasa melimpahkan shalawat dan salam kepada beliau.

Ibnu Jarir telah meriwayatkan bahwa Rosulullah SAW bersabda ”Allah telah memberikan Udzur kepada orang yang telah berusia enam puluh atau tujuh puluh tahun” Wallahua’lam
Rasulullah SAW menyebutkan secara khusus usia enam puluh tahun. Oleh karena itu bagi siapa saja yang sudah mendekati usia itu atau bahkan sudah mencapainya atau bahkan sudah melewatinya, hendaknya merenungkan beberapa riwayat berikut :

Imam Bukhori mengulas dalam Shohihnya tentang usia enam puluh. Beliau menuturkan bab ”Orang yang telah mencapai usia enam puluh tahun. Telah diberikan udzur oleh Allah pada umurnya”, sesuai dengan firman Allah : ”Dan apakah Kami tidak memanjang umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan” (Q.S. Fathir : 37)

Kemudia beliau dengan sanadnya sendiri, mencantumkan Hadist dari Abu Huroirah, dari Nabi SAW bahwa beliau bersabda : ”Allah telah memberikan udzur kepada seseorang dengan menangguhkan ajalnya, sehingga mencapai usia enampuluh tahun”

*) Mahasiswa Jurusan Pendidikan Ekonomi Umum FKIS IKIP Bandung Angkatan Tahun 1981. Sekarang Dosen pada Prodi Pendidikan Ekonomi Koperasi, Prodi Akuntansi, Prodi Manajemen FPEB dan Prodi Manajemen Industri Katering FPIPS UPI Bandung.

Rosulullah SAW bersabda : ”Pertarungan maut itu berada antara usia usia enam puluh tahun hingga tujuh puluh tahun.” Ibnu Majah menambahkan, ”Dan sedikit sekali umatku yang berusia hingga tujuh puluh tahun.”
Dalam Riyadhush Sholihin, Imam An-Nawawi mencantumkan bab ”Anjuran Untuk Meningkatkan Amal kebajikan di akhir-akhir Usia.”
Ash-Shiddiqi menjelaskan bab ini, bahwa anjuran disini artinya adalah dorongan. Arti kebajikan yaitu perbuatan taat dan kebaikan yang dapat mengantarkan pelakunya kepada keridhoan Allah. Sementara arti di akhir-akhir usia, yaitu di penutup hidupnya. Dengan menutup hidup melalui kebajikan, maka bermunculan buah dari segala ketaatan dan keberkahan dari segala kebaikan.

Seorang manusia selalu bertambah sempurna, hingga mencapai usia enam puluh tahun. Kemudian setelah itu mulai mengalami penurunan. Sebagaimana diungkapkan oleh seorang pujangga :

Kalau seorang pemuda mencapai usia enam puluh tahunnya

Segala keceriaan dan dunia mudanya pun sudah sirna

Dan umur, dimana Allah telah mencabut udzur dari kalangan para hamba-Nya, lalu mencampakkan segala atribut kelemahan dari diri mereka. Dan ternyata umur ini yang paling banyak dimiliki umat Islam ini, sebagaimana tercantum dalam hadits Abu Hurairoh, Rosulullah SAW bersabda : ”Usia umatku berkisar antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun. Sedikit yang berhasil melewatinya” (riwayat Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Sebagian ahli hikmah menjelaskan, usia itu ada empat yaitu masa kecil, masa muda, masa separuh baya dan masa tua. Masa tua adalah akhir usia umumnya terjadi antara enam puluh hingga tujuh puluh tahun. Pada saat itulah muncul kecenderungan melemahnya kekuatan dan penurunan daya tahan. Maka seyogyanya ia berkonsentrasi pada urusan akhirat, karena mustahikl ia akan kembali bersemangat dan kuat seperti sebelumnya. Dari situlah kalangan Safi’iyah mengambil kesimpulan bahwa bahwa orang yang telah mencapai usia enam puluh tahun penuh, namun belum berhaji, padahal ia mampu, maka ia dianggap melakukan keteledoran, ia berdosa kalau meninggal dunia sebelum berhaji. Siapa saja yag berusia sekian, namun memiliki tindak-tanduk yang tidak disukai oleh Allah, sementara ajalnya hanya tinggal sejengkal lagi, bahkan ia engggan, setidaknya untuk secara tulus bertekad bertaubat dan pasrah kepada Allah, maka demi Allah kapan lagi ia akan bertaubat ?
Pada umumnya orang yang telah berusia demikian energi tubuhnya sudah berkurang, tekadnya sudah mengendur, maka sudah sepantasnya ia memasrahkan diri kepada Allah dan meminta kerelaan di hadapan-Nya, karena Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

Sesungguhnya puncak kedewasaan dan kekuatan seseorang terjadi pada umur empat puluh tahun. Umur tersebut merupakan umur yang paling sempurna dan umur setelahnya akan senantiasa berkurang dan melemah. Jika seseorang telah mencapai umur enam puluh tahun, maka itu adalah umur perenungan dan tak lagi produktif. Rosulullah SAW bersabda : ”Jika hari kiamat telah datang, orang-orang yang telah berumur enam puluh tahun akan dipanggil, ”Dan apakah Kami tidak memanjang umurmu dalam masa yang cukup untuk berpikir bagi orang yang mau berpikir. (Q.S. Fathir : 37)

Kalau seseorang sudah diberi usia panjang hingga enam puluh tahun, maka sudah saatnya untuk melakukan perenungan, karena empat puluh tahun adalah puncak optimalisasi energi tubuh. Kalau sudah lebih dari usia tersebut hingga enam puluh tahun, berarti ia sudah melalui dua puluh tahun masa penurunan, yakni setengah dari usia empat puluh tahun yang merupakan puncak energi tubuhnya. Artinya ia sudah kehilangan setengan kekuatannya. Oleh karena itu seharusnya realitas itu menjadi pukulan bagi dirinya, seyogyanya ia menciptakan sebuah kehormatan baru, dengan memasrahkan diri kepada Allah dalam hal yang meridhoi-Nya, yaitu perenungan. Karena kalau seseorang melakukan perenugan, pasti akan terilhami melakukan berbagai ketaatan. Ia hanya akan menjadi hina dina, bila usianya menjadi bencana dan hujah yang menggugat dirinya.

Dari Anas diriwayatkan bahwa Rosulullsh SAW bersabda : ”Mauakah kalian aku tunjukkan orang terbaik diantara kalian ? ” ”Mau wahai Rosulullah ” jawab mereka. Beliau bersabda : ”Yang terbaik diantara kalian dalah yang paling panjang usianya, namun yang lurus jalan hidupnya”
”Sesungguhnya Allah menyukai orang yang berusia dua puluh tahun, namun bersikap seperti orang yang berusia delapan puluh tahun. Allah membenci orang yang berusia enam puluh, tapi bersikap seperti orang berusia dua puluh.” (riwayat Utsman bin ’Affan r.a.)

Umumnya usia enam puluh tahun adalah usia pensiun bagi seorang pegawai. Saat dipensiunkan, seorang pujangga pilihan telah menggubah sebuah syair :

Pensiun adalah kesempatan emas bagi kita
Untuk menambah kebajikan dalam timbangan amal kita
Pensiun adalah kesempatan emas bagi kita
Untuk menambah teman dan rekan yang kita cinta

Fudhoil bin ’Iyyadh pernah berkata kepada seorang lelaki ”Berapa tahun usiamu ?” Lelaki itu menjawab ”Enam puluh tahun” Beliau berkata ”Semenjak enam puluh tahun engkau berjalan menuju Rabbmu, nyaris engkau mencapai tujuan.” Lelaki itu berkomentar ”Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un” Al Fudhoil berkata krpadanya ”Engkau mengetahui tafsir dari kalimat tersebut ?” orang itu menjawab ”Tolong tafsirkan kalimat itu untuk kami, wahai Abu Ali !”Beliau berkata ”Siapa saja yang menyadari bahwa dirinya adalah hamba Allah, dan bahwa dia pasti akan baerpulang kepada Rabbnya, maka hendaknya ia menyadari bahwa ia pasti akan berdiri dihadapan Allah. Barang siapa yang menyadari bahwa ia akan berdiri dihadapan-Nya, hendaknya ia menyadari bahwa ia harus bertanggung jawab. Siapa saja yang mengetahui bahwa ia harus bertanggung jawab, maka hendaknya ia menyediakan jawaban untuk pertanyaan kelak.” Lelaki itu bertanya, ”Lalu bagaimana jalan keluarnya ?” Beliau menjawab ”Mudah saja” Orang itu bertanya lagi,”Tapi bagaimana ?” Beliau menjawab,”Berbuat baiklah pada sisa usiamu, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu yang terdahulu. Karena kalau engkau masih berbuat keburukan pada masa yang tersisa, maka segala perbuatanmu di masa yang lampau dan yang akan datang, akan diperhitungkan di sisi-Nya.”

Siapa saja yang diberi usia panjang oleh Allah hingga berusia enam puluh tahun atau lebih, maka hendaknya usianya itu dijadikan seperti yang telah diUraikan sebelumnya, yaitu usia kepasrahan, kekhusyukan, menanti kematian dan perjumpaan dengan Allah. Selain juga menjadi usia untuk peringatan dan usia mengejar taufiq.

Beberapa hal yang perlu diketahui oleh setiap muslim yang telah mencapai usia enam puluh tahun, untuk direalisasikan dan dijadikan sebagai tujuan hidupnya :

1. Banyak berdoa dengan doa-doa yang diriwayatkan secara shohih dari Rosulullah SAW sesuai dengan kontek usia tersebut. Seperti :
”Ya Allah, biarkanlah aku hidup kalau memang hidup itu lebih baik bagiku, dan cabutlah nyawaku kalau memang kematian itu lebih baik bagiku.” Karena seseorang tidak mengetahui, mana yang lebih baik bagi dirinya hidup atau mati ?
”Ya Allah, berikanlah perluasan rezeki-Mu pada usia tuaku dan pada saat berakhirnya hidupku.”
Al-Munawi menjelaskan ”yakni agar kesempurnaan rezeki itu didapat saat berakhirnya hidupnya atau saat meninggalkan dunia ini. Karena pada saat seseorang sudah berusia lanjut, kekutannya menjadi lemah, tubuhnya tidak lagi kuat, dan tidak mampu lagi bergerak cepat. Kalau saat itu Allah memberikan keluasan rezeki, pasti akan banyak membantunya beribadah”

2. Banyak berdzikir dan beristighfar atas kekeliruan dan keteledorannya. Karena yang layak dilakukan saat itu adalah memohon ampun, menjalankan ketaatan dan berkonsentrasi secara penuh menghadapi akhirat.
Sebagaimana diungkapkan oleh seorang pujangga :
Tinggalkanlah kenagan kecil yang telah meninggalkan kita.
Ingat saja dosa-dosa kita, dan menangislah, karena kita adalah pendosa.

3. Menambah pengetahuan ilmu agama untuk lebih mengenal kehendak Allah Ta’ala serta mengejar ketertinggalan selama ini. Karena siapa saja yang diinginkan menjadi baik oleh Allah, niscaya akan diberikan pengetahuan mendalam dibidang agama. Diantara makna hadits ini adalah bahwa orang yang tidak diinginkan kebaikannya oleh Allah, tidak akan Allah jadikan orang yang mendalam keilmuannya di bidang agama.
Kesimpulan itu meliputi setiap orang, termasuk yang sudah berusia lanjut. Karena ilmu sendiri tidak memiliki usia tertentu. Tetapi sebagaimana diungkap oleh Imam Ahmad : ”Dari sebotol tinta menuju ke pekuburan masal” Tentang botol tinta yang dipegang oleh para penuntut ilmu, beliau juga pernah berkomentar, ”Inilah bintang-bintang terang bagi agama Islam.”
Al Ghozali pernah mengungkapkan, ”Usia tua hanya menambah kebodohan bagi orang-orang yang bodoh. Karena ilmu adalah buah kecerdasan dan jumlahnya berlimpah, tidak akan terpengaruh oleh adanya uban di kepala”
Ayyub As-Sakhtiyani menuturkan, ”Aku pernah melihat orang tua berusia delapan puluh tahun, mengikuti anak kecil untuk belajar darinya.”
Abu ’Amru bin Al-’Alla pernah ditanya, “Apakah bagus, orang tua belajar kepada anak kecil ?” Beliau menjawab, ”Kalau kebodohan itu membuat si tua menjadi buruk, maka belajar dari anak kecil menjadi baik baginya.”

4. Mengkonsentrasikan hati dan cita-citanya untuk mengejar negeri akhirat. Karena usia yang tersisa sedikit. Aktivitas anak muda sudah tidak relevan lagi dengan dirinya. Artinya, bukan ia harus meninggalkan dunia secara totalitas. Namun sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, ia harus berkonsentrasi untuk akhirat karena tidak mungkin ia kembali menjadi bersemangat dan kuat seperti di masa muda.

5. Menulis wasiat, apa yang menjadi hak dan kewajibannya, seperti disebutkan dalam shahih Bukhori dan Muslim :”Kalau seorang muslim menginginkan sesuatu menjadi wasiatnya, lalu ia tidur selama dua malam, maka wasiat itu harus ada di bawah kepalanya.”
Namun ia tidak boleh bersikap curang dengan melebihkan atau mengurangi dari apa yang disyariatkan oleh Allah. Seperti memberikan hak khusus kepada salah seorang ahli waris dengan bagian tertentu, atau mencekal hak ahli waris lainnya, atau memberikan wasiat harta lebih dari sepertiga dari total hartanya sebagai sedekah sesudah matinya. Nerdasarkan sabda Nabi SAW kepada Sa’ad r.a. ”sepertiga itu sudah banyak.”

6. Memperbanyak menyambung tali silaturahmi, untuk menggantikan sikap yang kurang baik terhadap kerabat di masa lampau. Juga berbuat baik kepada mereka. Karena bisa jadi perbuatan di penghujung hidupnya dapat menghapus keteledoran dan perbuatan buruk terhadap mereka di masa lalu.

7. Mengupayakan berdamai dengan orang yang pernah disakitinya atau dicoreng kehormatannya dengan gunjingan, atau diambil sebagian hak finansialnya atau setidaknya hak-haknya secara moril, sebelum datang hari dimana harta dan anak tidak akan berguna lagi.

8. Berusaha mendapatkan pekerjaan yang halal, makanan, minuman dan pakaian yang halal, karena Rosulullah SAW bersabda :”Carilah makanan yang halal, niscaya doamu akan dikabulkan.”

9. Menetapkan program harian untuk menambah dzikir dan ibadah, serta membudidayakan sisa usia yang ada, terutama sekali pada waktu-waktu yang diutamakan, sehimgga aktivitasnya tidak berlari jauh dari program tersebut. Ia harus berupaya keras agar tidak meninggalkan program tersebut, tapi kalau bisa justru menambahnya. Pada dasarnya hal itu juga berlaku bagi setiap muslim, untuk segala umur. Namun orang yang telah mencapai usia lanjut lebih ditekankan lagi.

Beberapa bentuk program harian yang selalu dilakukan oleh orang-orang shaleh antara lain :

Pertama, bangun beberapa saat sebelum fajar untuk melaksanakan shalat sebatas kemampuan, setelah itu duduk di tempat shalatnya sambil berdzikir menanti adzan, lalu pergi untuk melakukan shalat Subuh. Usai shalat subuh berdiam sejenak di tempat shalatnya sambil berdzikir hingga matahari terbit dan agak meninggi. Lalu melakukan shalat dua rakaat dengan harapan mendapatkan pahala haji dan unroh sempurna, seperti disebutkan dalam riwayat shahih dari Nabi SAW (riwayat Tirmidzi; riwayat Muslim)

Kedua, pergi ke masjid sebelum adzan untuk membaca Al Qurandan melaksanakan shalat rawatib dan shalat sunnah, agar bisa mendapatkan shof bagian kanan di belakang imam, seperti kebiasaannya setiap hari.

Ketiga, melakukan puasa Senin dan Kamis atau salah satunya saja setiap minggu.

Keempat, shalat Dhuha semampunya.

Kelima, melakukan shalat Maghrib di masjid yang ada ceramahnya atau ada pengajiannya tiga kali seminggu. Di hari-hari lain, bisa di masjid dekat rumahnya hingga selesai shalat Isya, untuk membaca Al Quran dan berdzikir.

Keenam, di sebagian waktu Jumat, tinggal di masjid Jami’ mulai dari shalat Subuh hingga berakhhir Jumat. Kalau ia tidak bisa melakukannya, maka hendaknya ia tidak menyia-nyiakan berdzikir secara optimal di siang hari Jumat tersebut.

Ketujuh, menamatkan bacaan Al Quran beberapa kali dalam sebulan. Nyaris ia menamatkannya dengan hafalan saja. Ia tidak pernah menceritakan kebiasaanya itu. Akan tetapi orang-orang dekatnya memperhatikan hal itu dari indikasi yang ada. Juga ketika ia mengingatkan imam yang terlupa bacaannya, atau keliru bacaannya dalam shalat, di bagian surat manapun dalam Al Quran.

Kedelapan, ia tidak pernah lupa bersedekah setiap hari, meski dengan sesuatu yang sederhana. Pada sebagian hari, ia bahkan melakukan secara bersambungan, yakni sedekah, puasa, menjenguk orang sakit dan mengantarkan jenazah. Kemungkinan ia akan mendapatkan pahala seperti yang dijanjikan oleh Rosulullah dalam sabdanya : ”Barangsiapa yang terkumpul dalam aktivitasnya beberapa perbuatan tersebut, maka ia pasti masuk surga.” (hadits riwayat Muslim)

Demikianlah ia mengulang-ulang amal perbuatannya yang berpahala besar tersebut, atau sebagian besar diantaranya. Ia betul-betul merasakan kenikmatan dalam aktivitasnya tersebut yang pahalanya dapat dirasakan oleh orang-orang yang melakukan hal yang serupa dengannya.
Orang-orang shaleh lainnya, amatlah menyadari bahwa ucapan terbaik adalah firman Allah, dalam segala urusan. Ia tidak meninggalkan dunia secara totalitas, namun tetap mengikuti petunjuk dalam firman Allah SWT. :”Carilah hal-hal yang Allah berikan untuk akhiratmu namun jangan lupa bagianmu di dunia, berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.”

Imam Muslim menuturkan :”Bab Pahala yang Mengiringi Manusia Sesudah Wafatnya”. Sabda Nabi SAW ;”Kalau seorang manusia meninggal dunia, amal perbuatannya terputus, kecuali tiga, yakni sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, serta anak shalih yang mendoakan orang tuanya.”
Makna hadits ini adalah bahwa amalan orang yang sudah meninggal dunia terputus dengan kematiannya, dan terputus pula pahalanya, kecuali ketiga hal tersebut. Karena ia menjadi sebab munculnya pahala tersebut. Karena seorang anak adalah hasil kerja kedua orang tuanya. Demikian pula dengan ilmu yang ditinggalkan melalui pengajaran atau tulisan. Demikian pula dengan sedekah yang mengalir terus pahalanya, yaitu Wakaf.

Akhirnya sebagai penutup, agar orang yang berusia enam puluh tahun semakin bertambah semangatnya untuk melakukan amalan yang pahalanya terus mengalir sesudah ia meninggal, dengan melakukan salah satu dari ketiga amalan tersebut yaitu sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, serta anak shalih yang mendoakan orang tuanya.

Sumber :
Ar-Rifa’i, Muhammad Nasib, 1999, Kemudahan dari Allah : Ringkasan Tafsir Ibnu Kasir, Penerjemah : Drs. Syihabuddin, Jilid 3, Jakarta, Gema Insani Press.
As-Sa’dun, Nisrin, 2007, Yaa Rabbi Kuadukan Segala Gundahku Padamu, Penerjemah : Bahrun Abubakar Ihsan Zubaidi Lc., Jogjakarta, Hikam Pustaka.
Da’jam,’Ali bin Sa’id bin, 2008, Yâ Shôhibas Sittin (Misteri Umur 60), Penerjemah : Abu Umar Basyir, Solo, Wacana Ilmiah Press.

Ani Pinayani, Mahasiswa Jurusan Pendidikan Ekonomi Umum FKIS IKIP Bandung Angkatan Tahun 1981. Sekarang Dosen pada Prodi Pendidikan Ekonomi Koperasi, Prodi Akuntansi, Prodi Manajemen FPEB dan Prodi Manajemen Industri Katering FPIPS UPI Bandung.

Villa Isola / Bumi
395 x 593 – 104k – jpg
arsitekturbandung… Bumi Siliwangi
400 x 260 – 17k – jpg
seminarperpustakaanupi… Isola (now Bumi
450 x 600 – 67k – jpg
bandungdailyphoto.com Isola or Bumi
383 x 500 – 51k – jpg
bandungdailyphoto.com timbul karena benda jatuh
300 x 224 – 18k – jpg
arleta.blog.friendster.com Sekarang namanya Bumi
1024 x 716 – 13k – jpg
picasaweb.google.com MIMOSA BUMI SILIWANGi
2240 x 1488 – 1268k – jpg
yatun.wordpress.com

bumi siliwangi
500 x 375 – 73k – jpg
smappsp85.wordpress.com Kampus Bumi Siliwangi
841 x 1024 – 636k – jpg
seminarperpustakaanupi… Villa Isola/Bumi
499 x 335 – 65k – jpg
freewebs.com Bumi Siliwangi
256 x 133 – 6k – jpg
panoramio.com ke Bumi Siliwangi
2946 x 2289 – 1179k – jpg
yatun.wordpress.com Bumi Siliwangi 1950an
500 x 326 – 40k – jpg
kaskus.us KOPMA Bumi Siliwangi
344 x 258 – 65k – jpg
yukez.wordpress.com

Bandung, Bumi
450 x 600 – 36k – jpg
bandungdailyphoto.com (Fisika Bumi
267 x 400 – 35k – bmp
fibusihebat.blogspot.com Bumi Siliwangi
480 x 640 – 69k – jpg
panoramio.com dengan Bumi
300 x 224 – 17k – jpg
hobbygue.multiply.com from Bumi Siliwangi)
965 x 752 – 130k – jpg
wikiwak.com nama jadi Bumi
465 x 340 – 49k – jpg
djawatempodoeloe… bu rektor bumi
375 x 500 – 22k – jpg
upister.com

1 2
3
4
5
6
7
8
9
10
Next

Google Images Home – Report Offensive Images – Help
Google Home – Advertising Programs – Business Solutions – Privacy – About Google