Abstrak

Tujuan tulisan ini adalah untuk menelusuri potensi dan peranan perguruan tinggi dalam membinan program pengembangan budaya kewirausahaan dan untuk memproyeksi masa depan kewirausahaan di Indonesia serta memberi alternatif jawaban terhadap satu tantangan besar yang dihadapi bangsa kita dewasa ini (seperti banyaknya tenaga kerja, lapangan kerja yang sangat terbatas, rendahnya produktivitas, masih belum optimalnya penggunaan sumber daya alam serta ketidakstabilan ekonomi). Apakah masih ada potensi yang belum dimanfaatkan, apakah masih mungkin ada pergeseran untuk memfungsikan sebagian dari potensi itu untuk menjawab tantangan ini : membangkitkan kewirausahaan dan mengantar hadirnya pewirausaha yang mempunyai keunggulan bersaing di era pasar bebas.
Dengan memperhatikan kondisi bangsa Indonesia saat ini maka peluang untuk meningkatkan produktivitas bangsa melalui pengembangan kewirausahaan sangat diperlukan dan masih terbuka lebar. Selain kebijakan pemerintah serta fasilitas yang disediakan, maka kondisi, ketersediaan serta kesiapan sumber daya di masyarakat sendiri akhirnya turut menentukan ruang lingkup, intensitas dan profil perilaku kewirausahaan. Pendidikan kewirausahaan yang relevan dan memenuhi persyaratan kurikulum, silabus, sistem delivery, instruktur, peserta, metode instruksional, sistem penilaian, proses dan hasil pendidikannya itu memang potensial dalam melahirkan pewirausaha masa depan yang mempunyai keunggulan bersaing (competitive advantage).

PENDAHULUAN
Pada tahun 2020 kita akan mulai memasuki era ‘free trade’ di wilayah Asia dan Fasifik. Pada era ini dibutuhkan para entrepreneur yang mampu menjawab tantangan dan peluang di kawasan ini. Oleh karena itu entrepreneurship (sikap kewirausahaan) perlu dipersiapkan ‘proactive’ sedini mungkin oleh bangsa Indonesia khususnya pada lembaga pendidikan tinggi. Para ahli ekonomi dan manajemen khususnya telah memberikan informasi tentang pentingnya para entrepreneur ini, misalnya Shumpeter (1934) menyatakan bahwa entrepreneurship is driving force behind economic growth.
Kewirausahaan dapat dipandang sebagai institusi kemasyarakatan yang mengandung nilai-nilai dan dinyatakan dalam perilaku. Nilai dan perilaku itu merupakan dasar, sumber daya, tenaga penggerak, tujuan, siasat, kiat , proses dan hasil bisnis. Wirausaha adalah pelakunya.
Pada masa lalu kewirausahaan dan wirausaha adalah urusan pengalaman langsung di lapangan. Hanya sedikit sekali yang masuk sebagai materi pelajaran formal di sekolah. Demikian juga pembahasan masalah kewirausahaan dan wirausaha dahulu biasanya dilakukan dengan pendekatan mikro, khususnya dari sudut sifat-sifat dan perilaku pribadi wirausaha. Saat ini pendekatan mikro dilengkapi dan dijelaskan dengan pendekatan makro yaitu faktor lingkungan dan faktor sosiologis lainnya seperti model Carol Moore dalam Bygrave (1995), khususnya kebijakan pemerintah untuk pembinaan pengembangan budaya kewirausahaan dan ketersediaan serta kesiapan sumber daya di masyarakat sendiri dalam arti fisik dan mental akhirnya akan menentukan ruang lingkup, intensitas dan profil perilaku kewirausahaan.
Perguruan tinggi biasanya sarat dengan tugas-tugas berkarya dalam dunia ilmiah. Ada perguruan tinggi yang jadi pemimpin, peneliti, pembaharu, penemu, inovator dan pemandu karya-karya ilmiah. Tetapi banyak perguruan tinggi yang menghadapi kesenjangan komunikasi ilmiah, hanya bisa jadi konsumen karya ilmiah yang sudah out-of-date dan bertindak sebagai pengecernya.

Paper singkat ini hendak menelusuri potensi dan peranan perguruan tinggi dan seberapa besar, jika ada, untuk memproyeksi masa depan kewirausahaan di Indonesia serta memberi alternatif jawaban terhadap satu tantangan besar yang dihadapkan kepada bangsa kita dewasa ini (seperti banyaknya tenaga kerja, lapangan kerja yang sangat terbatas, rendahnya produktivitas, masih belum optimalnya penggunaan sumber daya alam serta ketidakstabilan ekonomi). Apakah masih ada potensi yang belum dimanfaatkan, apakah masih mungkin ada pergeseran memfungsikan sebagian dari potensi itu untuk menjawab tantangan ini : membangkitkan kewirausahaan dan mengantar hadirnya pewirausaha yang mempunyai keunggulan bersaing di era pasar bebas.

PENDEKATAN MIKRO
1. Memupuk Bakat dan Sifat Kepribadian
Dalam bentuknya yang sederhana kewirausahaan bersumber pada sifat dan perilaku orang seorang. Sifat dan perilaku itu terbentuk dari pengalamannya sehari-hari. Orang punya perhatian, minat dan bakat pada kegiatan tertentu. Ia tertarik untuk terus mengerjakannya hingga mahir dan berhasil. Makin hari makin mahir dan menambah hasilnya. Pekerjaannya maupun hasilnya memberi keuntungan dan kepuasan. Berkat apa yang dialaminya, maka timbul kepercayaan diri terhadap pekerjaan yang berhasil berikut keuntungannya itu. Untuk memajukan pekerjaan itu dicarikan modal dan dengan yang diperolehnya dibentuklah satu bisnis. Kewirausahaan diidentifikasikan pada diri pewirausaha. Semangat ingin sukses, semangat kerja keras, sikap cermat dengan tiap langkah kerja, hati-hati dengan biaya, pencarian sumber bahan dan calon pembeli produk dilakukan tanpa mengenal waktu.
Dari uraian di atas, para pewirausaha tidak mempunyai profil yang uniform, melainkan justeru masing-masing dengan profilnya sendiri-sendiri. Ada jalan kewirausahaan itu yang ditempuh dalam waktu amat panjang lewat latihan-latihan prakek langsung setiap hari, kadang-kadang tanpa dasar sekolah formal, sedikit demi sedikit yang diturunkan oleh orang tua.
Ada kewirausahaan yang dibina tanpa pendidikan formal da tanpa modal, kecuali ada hubungan dengan sumber informasi, sumber uang, dan kekuasaan, mampu memproyeksikan hasil dengan logis, kemampuan komunikasi tanpa bukti-bukti, kesediaaan memberi janji-janji muluk, keberanian berspekulasi dan melanggar/menyimpang dari peraturan yang sah.
Ada yang ditempuh dan dibina dengan dasar pendidikan formal lewat kekaryaaan pada organisasi pemerintah atau bisnis yang mendapat gaji serta tunjangan sebgai pendapatan bulanan tetap hingga pensiun dan sesudah pensiun dengan menggunakan segala pengalaman serta relasinya terjun jadi pewirausaha yang menanggung resiko sendiri.
Ada kewirausahaan yang ditempuh dengan dasar pendidikan formal lewat ‘kerjasama/kolusi’ dengan pejabat pemerintahatau dengan diberi ‘proteksi’, fasilitas, dan hak-hak istimewa lewat aturan hukum, atau kebijaksanaan atau dengan penetapan pemerintah.
2. Meraih Peluang Bisnis
Ada beberapa mite (myth) tentang pewirausaha yang perlu diluruskan dan dijernihkan. Benarkah karier seseorang sebagai pewirusaha, demikian juga suksesnya semata-mata karena nasib naik saja ? Memang benar orang didalam kariernya sesuai dengan nasibnya dan untuk berhasil harus bernasib baik, Hal itu sama dengan taqdir illahy. Tetapi untuk menerima dan menyertai nasib baikpun, orang tidak cukup hanya dengan keadaan pasif atau acuh tak acuh, melainkan harus siap, harus melakukan persiapan dan ada kesiapan. Orang mencari kontak dengan lingkungan bisnis, mengorak informasi bisnis dan membuat jejarng dengan pelaku bisnis. Dengan kekuatan optimal dari panca inderanya, orang mencari ksempatan untuk dapat masuk ke dalam jalur sesuatu bisnis. Orang mencoba menyesuaikan diri paling optimal dalam rangkaian transaksi bisnis.
Gunung tidak datang menghampiri dan memberikan kekayaannya kepada orang. Oleh sebab itu orang harus pergi menuju, mendekati, masuk ke gunung. Orang harus mencari peluang, membuat simulasi atau eksperimentasi untuk dapat mengerjakan sesuatu disana yang paling cocok dan berhasil.
Benarkah fokus kegiatan para pewirausaha itu untuk uang dan uang saja ? Benarkah sukses pewirausaha ditentukan oleh keberhasilannya pada kesempatan pukulan pertama ? Benarkah ujian bagi pewirausaha itu terbatas selama 5 tahun pertama ? Jawaban atas semua pertanyaan itu tidak satu dan uniform. Ada cerita tentang kasus-kasus yang mengkonfirmasikan kebenarannya. Untuk sebagian pewirausaha, memang ada kecenderungan demikian, setidak-tidaknya selama waktu tertentu dan atau selama mengalami masa perkembangan tertentu. Pengusaha yang sudah mantap melihat keberhasilan keuangan sebagai kriteria kemajuan, namun bagi mereka uang bukan sebagai tujuan utama kehidupan. Dapat ditambahkan bahwa perilaku dan sikap mumpung bukan identitas dari pewirausaha dewasa. Ia akan tetap menjalankan serta menegakkan kewirausahaannya secara kontinyu.
3. Mempelajari dan Memajukan Ketrampilan Bisnis
Para ahli dan praktisi dewasa ini sepakat bahwa kewirausahaan dapat dipelajari. Sebagian besar dari mereka juga percaya bahwa kewirausahaan itu dapat diajarkan. Forumnya bisa formal atau non formal. Sistem penyampaian dan metode pengajarannya bisa bervariasi. Dengan hasil pendidikan itu, mereka menambah kekuatan generator terhadap bakat-bakat kewirausahaannya.
Sudah lewat waktunya bagi pandangan atau pendapat bahwa kewirausahaan hany soal bakat semta-mata. Sudah lewat juga waktunya bagi pandangan dan pendapat bahwa pewirausaha itu tabu dengan banyak aturan dan banyak rencana yang membatasi kebebasannya dan daya kreatifnya.
Disamping infromasi dan pelajaran tentang kewirausahaan, pewirausaha dewasa ini mutlak memmerlukan penguasaan prinsip-prinsip manajemen bisnis, yang berkedudukan atau berperan sebagai partnernya yang dapat saling membantu, memperkuat posisinya dan meningkatkan kemajuannya. Tanpa penguasaan prinsip-prinsip manajemen bisnis, pewirausaha seakan-akan pincang. Pewirausaha dapat mempercayakan penerapan ketrampilan manajemen bisnis kepada yang dipercayanya.
Manajemen strategik adalah sistem manajemen bisnis yang dianggap paling sejalan dengan gaya dan pendekatan pewirausaha. Manajemen strategik berorientasi dan berwawasan masa depan. Ia meluncurkan pendekatannya berdasarkan analisis kedepan. Ia menuntut visi-misi-posisi-tujuan-strategi-aksi yang kreatif, adaptif dan dinamik. Dengan begitu, khususnya pewirausaha barau yang karena masih terbatas pengalamannya belum terkenal sebagai pengambil keputusan dan tindakan tepat secara intuitif, dapat dibantu dalam putusan dan tindakannya dengan pemikiran yang berdasar konsep-konsep ilmiah.

PENDEKATAN MAKRO
Pendekatan mikro yang biasanya kurang konstektual mengembalikan berbagai masalah dan issue kewirausahaan pada diri pribadi pewirausaha. Ruang lingkup kajian lewat pendekatan begini bukan saja terlalu individualistik melainkan juga tidak realistik karena tidak menunjukkan adanya hubungan interaksional atau pengaruh timbal balik antara para pewirausaha dengan lingkungannya. Selanjutnya kajian-kajian mikro juga kurang bermanfaat untuk tujuan merumuskan kebijakan pembinaan umum yang melibatkan banyak warga masyarakat.
Nilai-nilai kewirausahaan dan perilaku pewirausaha terjadi dalam konteks kemasyarakatan dan kebudayaan. Ada berbagai lingkungan, ada berbagai lapisan horizonta, ada berbagai lapisan vertikal dan ada berbagai jaringan sosial-ekonomi, sosial-politik dan sosial-budaya. Nilai-nilai itu mencerminkan atau merepresentasi-kan dan melindungi berbagai jenis serta ragam kepentingan dari banyak pihak yang terlibat didalamnya, baik pada sisinya yang bersifat intrinsik maupun instrumentalnya. Sejalan dengan itu dalam masyarakat ada peraturan-peraturan normatif mengenai sistem politik, perekonomian, pemerintahan, hukum, pendidikan dll. Bahkan lebih mendasar lagi mengenai etika sopan santun dan keagamaan warga masyarakat yang bersangkutan.
Jadi harus ada public policy untuk pembinaan kewirausahaan dan pewirausaha. Tetapi pendekatan sentralistik dan uniformistik serta cara-cara birokrasi sifatnya mengambang dipermukaan saja. Oleh karena itu bukan saja tidak relevan dan efektif, melainkan sering bertambah berbelok-belok dan berliku-liku sehingga justru menjadi counter produktif.
Informasi dan fasilitas yang terkandung dalam public policy mesti sampai menemui khlayak sasaran. Dari kalangan mereka ini ada golongan yang tergolong sebagai ‘critical mass’, yang sudah terdesak kebutuhan, merasakan perlu-harus-wajib untuk jadi pewirausaha. Disatu pihak karena sudah melihat berbagai peluang berhubung persyaratannya terpenuhi. Dipihak lain, oleh karena alternatif karir lain tidak lebih baik atau tidak ada sama sekali. Sebagai entrepreneur pemula, orang terjun dalam bisnis berskala kecil. Bisnis kecil ini tidak lantas memberi laba sebagai rezeki nomplok. Meski demikian bisnis kecil ini terus menerus digeluti, ditempa dan dihidupinya. Ia terbawa dalam istirahat atau kadang-kadang hingga termimpi-mimpikan. Semua hal yang terkait disiapkan dan diperiksa cermat selalu untuk dapat ditampilkan sebaik-baiknya ke pasar.
Berdasarkan uraian di atas dapat kita rumuskan dalam sebuah proposisi bahwa disamping public policy serta fasilitas yang disediakan, maka sebenarnya kondisi, ketersediaan serta kesiapan sumber daya di masyarakat sendiri dalam arti lahir batin atau fisik dan mental akhirnya turut menentukan ruang lingkup, intensitas dan profil perilaku kewirausahaan. Pendidikan kewirausahaan yang relevan dan memenuhi persyaratan mengenai kurikulum, silabus, sistem delivery, instruktur, peserta, metode instruksional, sistem penilaia, proses dan hasil pendidikannya itu memang potensial. Namun sepenting-pentingnya potensi, arti yang sebenarnya akan diuji dalam kenyataan penerapannya. Selain proposisi tersebut ada proposisi lain yang lebih signifikan yaitu bahwa public policy dari pemerintah RI tidak boleh bersifat diskriminatif atas dasar apapun. Semua kelompok dan golongan dalam masyarakat secara yuridis formal mempunyai hak yang sama, maka sekarang tergantung pada tiap individu atau tiap kelompok dan golongan, siapa orang-orang yang secara prinsipil akan mencari dan menumbuhkan peluang bisnis. Lebih khusus lagi pertanyaannya : what business are you in ? serta bagaimana praktek men-jalankan bisnis itu dengan semangat dan kiat kewirausahaan serta manajemen ?
Masalah kita tidak berhenti dan tuntas pada pendidikan atau latihan kewirausahaan, maupun seminar dan lokakarya saja. Masalah yang paling menantang ialah keberanian memberi kepastian dan membuat putusan untuk memilih karir pewirausaha. Pewirausaha yang siap mengambil serta memikul resiko sendiri (self-rewarding and self-punishing), bukan yang siap menerima gaji pemberian majikan. Angin kebijakan publik sudah bertiup makin kuat, jalur-jalur bisnis sudah terpajang jelas, nasib atau taqdir ada ditangan tuhan, tinggal satu lagi rahasia yang belum dijawab : bagaimana keseriusan kita, mengapa belum saja kita keranjingan menerjuni karir pewirausaha bisnis ?

POTENSI PERGURUAN TINGGI
Sejak pertemuan APEC di Seattle sudah ada kesepakatan bersama para anggotanya bahwa untuk membantu mempercepat pertumbuhan perekonomian di wilayah Asia dan Fasifik ini secra luas dan merta, perlu seklai ada kerja sama segitiga antara Government-Business-Universities. Salah satu sasarannya adalah kerjasama memajukan kewirausahaan.
Jadi dari sudut kebijakan publik juga dari sudut tri-dhama perguruan tinggi masalah pembinaan kewirausahaan ini tidak ada persoalan apa-apa. Pemerintah RI sebenarnya sudah sejak lama mengambil prakarsa untuk merealisasikan kebijakannya. Saat ini kebijakan itu lebih digencarkan lagi melalui Program Pengembangan Budaya Kewirausahaan (PPBK) di Perguruan Tinggi yang telah memasuki tahun keempat, program ini terdiri dari enam kegiatan yaitu Kuliah Kewirausahaan (KWU), Magang Kewirausahaan (MKU), Kuliah Kerja Usaha (KKU), Karya Alternatif Mahasiswa (KAM), Konsultasi Bisnis dan Penempatan Kerja (KBPK) dan Inkubator Wirausaha Baru (INWUB).
Program Pengembangan Budaya Kewirausahaan di PT dilaksanakan untuk menumbuhkembangkan jiwa kewirausahaan pada mahasiswa dan juga staf pengajar serta diharapkan menjadi wahana pengintegrasian secara sinergi antara penguasaan sains dan teknologi dengan jiwa kewirausahaan. Sehingga hasil-hasil penelitian dan pengembangan tidak hanya bernilai akademis saja, namun mempunyai nilai tambah bagi kemandirian perekonomian bangsa. Demikian juga lulusan PT tidak hanya berorientasi dan mampu menjadi pekerja saja, tapi juga berorientasi dan mampu bekerja mandiri dan mengelola perusahaan atau industri sendiri dalam suatu wadah perushaan atau industri kecil menengah, yang tidak tertutup kemungkinannya menjadi industri atau perusahaan besar.
Dengan segala respek kepada seluruh civitas akademik, sama sekali sungguh keliru anggapan bahwa perguruan tinggi mau-tak-mau mesti secara otomatis dan pasti mempunyai potensi untuk membina program kewirausahaan bisnis (business entrepreneurship) yang bermutu dan berhasi. Anggapan seperti itu juga keliru, jika perguruan tinggi yang bersangkutan tidak mempunyai program studi bisnis (manajemen) atau ekonomi koperasi yang dilengkapi kepustakaan dan laboratorium . Juga potensi itu akan terbatas, jika perguruan tinggi yang bersangkutan tidak mempunyai akses dan tidak biasa memelihara kontak serta komunikasi dengan dunia bisnis.
Ada dua faktor krusial dan kritikal. Pertama, pandangan dan kepemimpinan Ketua Senat perguruan tinggi, sejauhmana ia ada hati terhadap program ini. Sebab ini akan melibatkan sebagian kebijakannya mengenai SDM, fasilitas dan anggaran. Faktor lain yang tak kurang kritikalnya ialah SDM-nya, yaitu para civitas yang mempunyai ‘paradigm’ kewirausahaan, yang dinyatakan dalam minat dan perhatiannya, bakat yang dinyatakan dalam simulasi atau eksperimentasinya, ada dukungan konsep-konsep kewirausahaan dan manajemen, ada jejaring ke dunia bisnis, ada semangat dan kesediaan berkorban serta ada pengalaman. Civitas dengan kualifikasi SDM-nya demikian adalah yang potensial sebagai cikal bakal pemrakarsa program tersebut.
Dari pemikiran-pemikiran tersebut di atas, penanggung jawab program dan stafnya tidak boleh royal atau ambisius dalam arti kuantitatif mengenai kegiatannya, melainkan harus selektif sekali. Sama sekali program atau proek ini tidak boleh overshadowing program-program tri-dharma yang sudah jadi keputusan Senat Perguruan Tinggi. Meskipun otonom, pemandunya harus berhasil menawarkan terbentuknya partnership mengenai pengelolaan program ini. Networking harus dibina dengan satuan-satuan organisasi dan orang-orang di dalam perguruan tinggi sendiri maupun di organisasi bisnis dan pemerintahan.

PERANAN PERGURUAN TINGGI DALAM MENUMBUHKAN PROSPEK MASA DEPAN KEWIRAUSAHAAN
Berbagai perhatian untuk mengembangkan para pewirausaha telah dilakukan baik di negara maju maupun di negara yang sedang berkembang. Strategi yang dipergunakan juga berbeda pada masing-masing negara tersebut. Di negara yang telah maju seperti Amerika, Inggris, Jepang, Kanada, Australia, Jerman dan Hongkong pengembangan para pewirausaha dilakukan dengan cara Laissez-faire (bebas tanpa intervensi). Namun keberpihakan pada para pewirausaha kecil (small enterprise) jelas terlihat untuk meningkatkan efisiensi, produktivitas dan kemampuan bersaing dari para entrepreneur kecil tersebut.
Strategi pengembangan kewirausahaan yang terintegrasi belum sepe-nuhnya dilakukan di Indonesia seperti yang dilakukan oleh India dan Malaysia. Hampir setiap departemen menyusun program pembinaan atas usaha kecil, namun arah (visi- long term direction) yang ingin diambil tidak jelas dan terlihat tidak berkelanjutan, walaupun perhatian pada usaha/industri kecil telah dimulai pada awal pembangunan lima tahun pertama, yang meliputi sekor-sektor pertanian, sektor industri, maupun pada sektor perdagangan dan koperasi.
Dengan memperhatikan kondisi negara kita saat ini berupa langkanya kesempatan kerja dan besarnya penawaran tenaga kerja sarjana, maka para pakar menyarankan berbagai strategi perluasan lapangan kerja seperti :
 Strategi umum dibidang produksi, investasi, fiskal, moneter, perdagangan, harga, upah, pendidikan dan pelatihan.
 Perencanaan tenaga kerja trampil dan ahli sesuai dengan kebutuhan pembangunan.
 Usaha mandiri dan kewirausahaan melalui program-program yang memperkuat usaha kecil, memperbanyak pelaku ekonomi baru, memperkuat daya saing pelaku-pelaku ekonomi yang lemah, mendorong inovasi dan memodernisasikan usahakecil. (Payaman, 1989) dalam Idrus (1999)

Saran-saran tersebut di atas tentunya harus ditopang oleh perguruan tinggi dengan mewujudkan social responsibility dari hasil pekerjaannya (memproduksi jasa pendidikan) selama ini. Peranan perguruan tinggi yang strategis ini perlu diaktifkan untuk mendorong akselerasi perluasan kesempatan kerja melalui pengembangan pelaku-pelaku ekonomi baru (entrepreneur) yang trampil, yang mempunyai teknologi maju, berusia muda yang poduktif-kreatif dan berdaya saing baik di pasar regional maupun di pasar global.
Berbagai kekuatan (strength) dan peluang (opportunities) yang telah dimiliki perguruan tinggi di Indonesia dapat dioptimalkan seperti :
 Tersedianya berbagai disiplin ilmu yang lengkap dan luas serta memadai untuk mendorong pertumbuhan, pemerataan, dan kelanjutan pembangunan ekonomi.
 Tersedianya sumber daya manusia baik tenaga pelatih yang mempunyai integritas keilmuan yang tinggi (Guru besar, Doktor, Magister yang berpengalaman di bidang penelitian dan pengabdian masyarakat), maupun mahasiswa yang terseleksi dengan baik.
 Besarnya kemungkinan kerjasama dengan departemen pemerintahan beserta badan penelitian dan pengembangan yang ada pada departemen tersebut dan balai-balai latihan yang relevan serta dunia usaha di sekeliling perguruan tinggi.
 Sebagai salah satu agent of change di Indonesia, perguruan tinggi tidak saja dapat melakukan transfer of knowledge, tetapi juga transfer of technology yang dibutuhkan untuk melakukan modernisasi sektor usaha kecil.
 Perguruan tinggi tidak saja sebagai mesin produksi sarjana, tetapi juga dapat memproduksi basic dan applied science and technology yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan serta memproduksi publikasi dan informasi ilmu pengetahuan dan teknologi terbaru untuk membantu entrepreneur muda.
Dalam upaya untuk memaksimalkan kesempatan dan kekuatan tersebut, perguruan tinggi sebaiknya berpikir dan bertindak strategis yaitu berpikir entrepreneur (mampu melihat peluang dan memanfaatkannya dengan segala resiko yang ada) dan berpikir strategis dengan menggunakan sumber informasi dari luar untuk melakukan adaptasi ke dalam sehingga sesuai keinginan dari pelanggan dan kondisi yang ada. Berpikir strategis tidak dimulai dari dalam yang hanya menunjukkan kelemahan entrepreneurial dan tidak mau mengambil resiko.
Perguruan tinggi harus bekerja dengan menggunakan pendekatan strategic management yaitu dengan :
1. Menyusun Misi dan Visi yang spesifik dan jelas
Dengan Misi untuk :
a. Mendukung perluasan lapangan kerja, dengan tingkat produktivitas yang tinggi, nilai tambah yang tinggi, menggunakan teknologi maju serta mendukung terciptanya entrepreneur muda.
b. Mendukung peningkatan produksi nasional yang dapat diandalkan untuk konsumsi dalam negeri, substitusi impor khususnya bagi kebutuhan bahan makanan dan obat-obatan serta kebutuhan industri yang berorientasi ekspor.
c. Mendukung agri-industri, agri-business, serta sektor jasa (pariwisata, transfortasi, komunikasi) yang strategis lainnya.
Visi (arah jangka panjang) misalnya meliputi
a. Unggul bersaing di tingkat ASEAN dan pasar Global pada tahun 2020 pada produk-produk hasil pertanian dengan low cost dan hight quality.
b. Bermitra (sebagai partner, joint venture, licencing, alliances atau sebagai sub-kontraktor) dari perusahaan global dengan standar kualitas yang terpercaya.
2. Melakukan analisis kekuatan (strength) dan kelemahan (weakness) serta peluang (opportunities) dan ancaman (threat) atas :
a. Usaha kecil di Indonesia, agar arah pembinaan calon entrepreneur tidak lagi mengulangi kesalahan para small business owner yang ada,
b. Perguruan tinggi dalam membina usaha kecil, seperti tersedianya sumber daya, perangkat lunak dan keras, motivasi, disiplin dan yang diperlukan untuk mendukung program kewirausahaan,
3. Menyusun strategi pengembangan entrepreneurship yang jelas baik ukuran waktu, ukuran kunci keberhasilan lainnya.
4. Menyusun strategi pengembangan entrepreneurship yang sesuai dengan
 Kebutuhan pembangunan
 Permintaan pasar dan berdaya saing yang tinggi, serta mengoptimalkan peluang yang ada.
 Meminimkan kelemahan perguruan tinggi (dana, laboratorium, dan staf yang berkualitas) dan menyesuaikan diri proactive dengan kekuatan yang tinggi terhadap perubahan lingkungan.
5. Implementasi strategi dengan cara
 Pembenahan struktur organisasi.
 Penyusunan sistem pengembangan bagaimana resources dialokasikan.
 Pemilihan leader yang berjiwa entrepreneur.
 Pemilihan staf beserta skill yang sesuai dengan kebutuhan pengembangan entrepreneur serta
 Pembentukan budaya organisasi atau shared value, selalu dilakukan dengan baik.
6. Mengevaluasi kinerja (dampak pengembangan pada kinerja para entrepreneur dibandingkan dengan mereka yang tidak terlibat di dalam proses pengembangan, harus dilakukan untuk melihat seberapa efektif usaha pengembangan kewirausahaan tersebut).
7. Melakukan tindakan perbaikan (apa yang salah, kapan, dimana, siapa dan cara/metode mana yang salah) juga selalu dilakukan mulai dari aspek visi, misi, strategi, maupun implementasi strateginya.
Di dalam pelaksanaan program pengembangan kewirausahaan, tentunya banyak kendala yang akan dihadapi. Kendala-kendala tersebut antara lain :
 Adanya komitmen untuk mengintegrasikan kurikulum pengembangan kewirausahaan ke dalam proses belajar mengajar sangat diperlukan dan membutuhkan saling pengertian.
 Team-work antar disiplin belum menjadi budaya kita. Sinergi antar dua atau beberapa program studi belum dapat dilakukan dengan baik.
 Perlu dibentuk SEED (small enterprise and entrepreneurship development) centre atau semacam inkubator wirausaha baru (INWUB) sebagai kegiatan akhir dari program pengembangan budaya kewirausahaan di PT untuk menumbuhkan pewirausaha baru. Di IKOPIN Bandung telah dibentuk program inkubator, STMB dan Kadin Jawa Barat membentuk Inkubator Bisnis Bandung. PT lain yang sudah lebih lama punya program inkubator adalah UNMER Malang. UNMER mengkhususkan rekrutmen dan pembinaan pengusaha muda langsung dari sekolah atau perguruan tinggi maupun mahasiswa yang belum pernah berpengalaman bisnis.

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
1. Dengan memperhatikan kondisi bangsa Indonesia saat ini (seperti banyaknya tenaga kerja, lapangan kerja yang sangat terbatas, rendahnya produktivitas, masih belum optimalnya penggunaan sumber daya alam serta ketidakstabilan ekonomi), maka peluang untuk meningkatkan produktivitas bangsa melalui pengembangan kewirausahaan sangat diperlukan dan masih terbuka lebar.
2. Disamping public policy serta fasilitas yang disediakan, maka kondisi, ketersediaan serta kesiapan sumber daya di masyarakat sendiri akhirnya turut menentukan ruang lingkup, intensitas dan profil perilaku kewirausahaan. Pendidikan kewirausahaan yang relevan dan memenuhi persyaratan mengenai kurikulum, silabus, sistem delivery, instruktur, peserta, metode instruksional, sistem penilaian, proses dan hasil pendidikannya itu memang potensial dalam melahirkan pewirausaha masa depan yang prospektif.
3. Bahwa public policy dari pemerintah RI tidak boleh bersifat diskriminatif atas dasar apapun. Semua kelompok dan golongan dalam masyarakat secara yuridis formal mempunyai hak yang sama, maka sekarang tergantung pada tiap individu atau tiap kelompok dan golongan, siapa orang-orang yang secara prinsipil akan mencari dan menumbuhkan peluang bisnis. Apabila hal ini berjalan fair, maka prospek masa depan kewirausahaan Indonesia akan lebih baik dari keadaan sekarang.
4. Pengembangan kewirausahaan saat ini sangat dibutuhkan dalam rangka memperluas kesempatan kerja serta mempersiapkan keunggulan bersaing bangsa Indonesia pada era pasar global. Oleh karena itu perlu dibentuk inkubator bisnis pada setiap perguruan tinggi yang berfungsi untuk mengadopsi pengembangan kewirausahaan ke dalam proses belajar dan mengajar.
5. Perlu dikembangkan tim kerja, komitmen pimpinan, sinergi antar lembaga, baik di dalam maupun di luar perguruan tinggi.

DAFTAR PUSTAKA
Bygrave, William D., 1995, The Portable MBA In Entrepreneurship, John Wisley and Sons, Inc.
Hisrich, Robert D and Peters, Michael P., 1998, Entrepreneurship, Irwin/McGraw-Hill, Boston.
Idrus M. Syafiie, 1999, Strategi Pengembangan Kewirausahaan (Entreprenuer-ship) dan Peranan Perguruan Tinggi Dalam rangka Membangun Keunggulan Bersaing (Competitive advantage) Bangsa Indonesia Pada Millenium Ketiga, Pidato Pengukuhan Guru Besar, Universitas Brawijaya Malang.
Salim Ubud, 1999, Gagasan Terbesar : Bisnis Kecil/Menengah Kunci Utama Indonesia Menghadapi Krisis : Kewirausahaan Perusahaan (Sudut Pandang Manajemen Bisnis), Makalah Seminar, Universitas Brawijaya.
Sanusi Achmad, 1994, Menelaah Potensi Perguruan Tinggi Untuk Membina Program Kewirausahaan dan Mengantar Kehadiran Pewirausaha Muda, Makalah Seminar Kewirausahaan, Inkubator Bisnis Bandung, STMB-KADIN Jabar.
Wisono Bambang, 1996, Kewirausahaan dan Peluang Usaha, Training Singkat (One Day Training) sukses memulai usaha/bisnis, PUSPIKOMM Bandung.
—————–,1999, Panduan Program Pengembangan Budaya Kewirausahaan di Perguruan Tinggi, Ditbinlitabmas Dirjrn Dikti Depdikbud Jakarta.